Kamis, 27 Juni 2013


Tidak sedikit problematika-problematika yang melanda Pemuda Kaum Muslimin. diantaranya free sex, Miras, Narkoba, pacaran dll. Namun disamping itu tidak sedikit pemuda yang menjadi pejuang Islam yang selalu berjuang untuk menegakan Daulah Khilafah dimuka bumi ini.
Perkara penting yang harus selalu diingat, bahwa menegakkan Khilafah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Yang mewajibkan adalah Allah SWT, Tuhan Yang menciptakan kita. Dia pula yang menghidupkan, memberikan rezeki dan memenuhi semua kebutuhan kita. Lalu atas dasar apa kita berani menolak perintah-Nya? Sungguh, tidak layak bagi makhluk ciptaannya berani durhaka terhadap Allah SWT.

Layaknya kewajiban, siapa pun yang berjuang untuk menunaikan kewajiban ini akan diganjar dengan pahala. Apalagi Khilafah termasuk kewajiban yang agung, bahkan tâj al-furûdh (mahkota kewajiban). Pahala yang diberikan kepada pejuangnya tentulah amat besar. Inilah yang seharusnya memotivasi kita untuk terus bergerak dan tidak berhenti berjuang. Hidup yang hanya sekali harus benar-benar digunakan untuk mencari bekal mendapatkan pahala dan ridha-Nya.
Sebaliknya, siapa pun yang meninggalkan kewajban ini, apalagi menghalanginya, diancam dengan azab yang sangat pedih. Ketakutan terhadap besarnya azab ini sejatinya melecut kita agar lebih semangat lagi berjuang menegakkan Khilafah. Siapakah yang dapat menghindar dari pengadilan-Nya? Siapa pula yang bisa mengelak dari siksa-Nya? Siapakah yang tahan menerima siksa-Nya yang amat dahsyat? Tidak ada seorang yang menghadapinya! Allah SWT berfirman:
ٱصْلَوْهَا فَٱصْبِرُوٓا۟ أَوْ لَا تَصْبِرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْكُمْ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٦﴾
Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya). Baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian. Kalian diberi balasan atas apa yang telah kalian kerjakan (QS ath-Thur [52]: 16).
Menyongsong Janji yang Pasti Ditepati
Selain fardh[un], Khilafah juga merupakan wa’d[un] (janji) Allah SWT. Janji tersebut disebutkan dalam QS an-Nur [24]: 55. Janji tersebut dikuatkan dengan busyrâ (berita gembira) dari Rasululullah saw. tentang akan berdirinya Khilafah ‘alâ minhâj an-Nubuwwah pasca berakhirnya mulk[an] jabriyy[an] (kekuasaan diktator). Juga berita gembira tentang Kota Roma yang akan ditaklukkan setelah penaklukkan Kota Konstatinopel. Telah maklum, yang berhasil ditaklukkan baru Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih, sementara, Roma belum pernah ditaklukkan. Dengan demikian hadis tersebut mengokohkan bakal berdirinya Khilafah di akhir zaman. Bukan hanya terhadap Roma, Khilafah yang akan berdiri itu akan menaungi seluruh bumi yang pernah dihimpunkan kepada Rasulullah saw.
Janji Allah SWT itu pasti akan terealisasi. Sebab, Dia tidak akan mengingkari janji-Nya (lihat QS Ali Imran [3]: 9, al-A’raf [13]: 31, ar-Rum [31]: 6). Dia juga pasti bisa mewujudkan janji-Nya. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi kehendak-Nya. Siapa pun yang menghalangi tegaknya Khilafah, niscaya akan gagal dan sia-sia. Siapakah yang bisa menghalangi datangnya fajar subuh di pagi hari. Siapakah yang bisa mencegah terbitnya matahari setelah malam usai? Seperti itulah Khilâfah ‘alâ minhâj an-Nubuwwah ats-tsâniyyah akan tegak!
Lalu atas dasar apa kita ragu untuk berjuang menyongsong janji-Nya? Jika para sahabat, tabi’in dan  umat Islam terdahulu berlomba-lomba untuk menaklukkan Konstantinopel, maka seharusnya juga kita bersemangat menaklukkan Roma. Dulu ‘Uqbah bin Nafi’ berkata, “Tuhanku, kalaulah tidak terhalang lautan ini, aku pasti berjalan di banyak negeri, guna berjihad di jalan-MU (Ibnu al-Ashir, Al-Kâmil fî al-Târikh). Tekad yang sama juga harus kita tancapkan dalam dada. Berjuang keras menegakkan Khilafah, lalu menaklukkan seluruh penjuru dunia, hingga tidak ada yang tersisa sebagaimana diberitakan dalam Hadis Nabi saw.
Kita membayangkan, betapa bahagianya kaum Muslim ketika janji Allah SWT itu tiba. Ketika Khilafah diproklamirkan, khalifah dibaiat, dan Liwa-Raya dikibarkan, seluruh kaum Muslim menyambutnya dengan suka cita. Betapa bahagianya tatkala kita termasuk orang-orang yang berada dalam barisan pejuangnya, orang-orang yang menghibahkan hidupnya untuk memperjuangan tegaknya Khilafah. Allah SWT berfirman:
وَيَوْمَئِذٍۢ يَفْرَحُ ٱلْمُؤْمِنُونَ ﴿٤﴾ بِنَصْرِ ٱللَّهِ ۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ﴿٥﴾
Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang Dia kehendaki. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4-5).